Monday, March 26, 2012

PERANAN IBU DALAM MENINGKATKAN MINAT BACA

oleh : Ikhsan Fariza, S.Sos
Pustakawan BPAD Babel




Mungkin ketika kita kecil Ibu selalu mendongeng untuk mengantarkan kita tidur. Setiap hari dongengnya selalu berganti. Seakan-akan tak pernah habis. Mulai dari dongeng “kancil mencuri timun” dengan berbagai setting cerita, sampai pada “tikus desa berkunjung ke kota”. Ketika ibu kehabisan bahan untuk mendongeng, ibu akan membacakan cerita dari buku kumpulan dongeng anak-anak. Sesekali kita bertanya bila ada kata-kata yang tidak kita mengerti. Dan Ibu dengan sabar menjelaskan kata-kata tersebut sampai kita mengerti. Begitulah kita belajar dan mengumpulkan kosa kata. Pada waktunya kosa kata tersebut akan keluar dalam bentuk komunikasi dengan teman-teman kita. Selain itu dongeng itu menjadikan hubungan batin kita sebagai anak dengan Ibu sangat dekat. Sesudah kita lancar membaca, maka kita dapat membaca sendiri cerita dari buku-buku yang dipinjami Bapak dari perpustakaan. Kebiasaan membaca inilah kelak yang membantu kita menapaki hidup yang walaupun tidak berlebihan, namun tetap survive di tengah persaingan hidup yang sangat ketat. 
Saat ini, mungkin karena kesulitan ekonomi yang tak kunjung mereda, ibu-ibu sudah jarang sekali mendongeng untuk anak-anaknya untuk mengantarkan tidur mereka. Ibu-ibu jaman sekarang harus bekerja untuk membantu meringankan beban keluarga. Mereka kelelahan sesudah seharian bekerja dengan gaji yang tidak pernah cukup untuk menopang kebutuhan keluarga. Tidak ada waktu lagi untuk sekedar bercanda ria dengan anak-anaknya. Apalagi mendongeng. Apabila terpaksa mendongeng, maka dongeng sang ibu sering kacau karena kalah oleh kantuk, dan sudah tertidur sebelum dongengnya tamat. Padahal anaknya belum tertidur. Anak-anak tidak bisa belajar lagi di rumah. Pendidikan mereka 100 % diserahkan ke sekolah. Padahal di sekolahpun para guru tidak bisa mendidik seperti jaman dulu. Karena guru-guru jaman sekarang mengajar di banyak sekolah untuk sekedar menambal kekurangan gaji mereka supaya dapur para guru itu tetap berasap. Tinggallah anak-anak kita yang jadi korban. Anak-anak lebih banyak berkeliaran di mal-mal. Atau kalaupun ada di rumah, mereka duduk di depan TV menyaksikan tayangan yang penuh dengan kekerasan dan seks. Akibatnya, anak-anak menjadi mudah marah, mudah tersinggung. Puncaknya adalah tawuran antar sekolah. Kita tidak pernah tahu apa yang mereka bela. Kalau kehormatan sekolah yang dibela, mungkin masih dapat dimengerti. Namun tawuran mereka lebih sering karena alasan iseng saja. Saling mencemooh antar pelajar dan berbuntut saling baku hantam. Bahkan tidak jarang baku bacok.
Kemampuan berkomunikasi merekapun juga kurang baik. Kadang-kadang pikiran mereka lebih cepat dari ucapan mereka. Jangan disuruh mereka menulis. Berbicara saja mereka susah memilih kosa kata, karena memang miskin kosa kata. Mereka tidak pernah terlatih untuk menggunakan banyak kosa kata. Dengarkan jika kebetulan anak muda diwawancara oleh wartawan media elektronik. Jawaban mereka sering meloncat dari satu topik ke topik yang lain. Tidak pernah runtut dalam mengemukakan pendapat. Mengemukakan pikiran yang runtut hanya bisa dilatih dengan cara membaca dan menulis.


Sesungguhnya pendidikan di lingkungan keluarga merupakan kunci dari permasalahan yang kita hadapi sekarang ini. Dan kunci pendidikan di lingkungan keluarga adalah ibu. Jika saja ibu dapat memberikan teladan-teladan yang berasal dari dongeng atau cerita dari buku dongeng anak-anak, maka jiwa anak-anak itu sudah diisi oleh hal-hal yang baik sejak dini. Masalahnya dari mana ibu-ibu tersebut bisa mendapatkan buku cerita supaya dia bisa mendongeng dengan baik. Membeli buku cerita anak bagi keluarga sederhana merupakan sesuatu yang muskil. Bayangkan, untuk satu nomor majalah Bobo saja harganya sama dengan setengah kilogram telur ayam. Padahal satu edisi majalah Bobo mungkin hanya bisa menjadi dua hari untuk bahan mendongeng. Jika anak-anak tersebut sudah bisa membaca sendiri, maka bahan bacaan yang dibutuhkannya akan semakin mahal. Satu edisi majalah Kawanku misalnya akan lebih mahal dari harga satu kilogram telur ayam.
Lebih jauh lagi mestinya penyediaan bahan bacaan ini merupakan tanggung jawab Pemerintah. Perpustakaan umum harus diberdayakan. Bahkan mestinya perpustakaan umum ini ditempatkan di pusat keramaian seperti pasar dan swalayan. Dengan demikian ibu-ibu yang lelah sehabis keliling berbelanja di pasar tersebut dapat mampir sejenak untuk memilih bahan bacaan untuk si kecil di rumah. Dalam hal penempatan lokasi perpustakaan umum ini kita patut mencontoh Singapura. Hampir setiap pusat pertokoan di Singapura ada perpustakaan umumnya. Salah satu perpustakaan umum di Singapura berlokasi di pusat perbelanjaan “Takasimaya” yang berlokasi di pusat kota, Orchid Road. Perpustakaan itu penuh dengan pengunjung tua, muda, bahkan anak-anak usia TK/SD yang melakukan aktifitas seperti membaca, melihat-lihat buku, meminjam, dan sebagainya. Di perpustakaan ini juga disediakan kafe dengan kualitas standard semacam McDonald dan Kentucky Fried Chicken, dan setiap beberapa hari perpustakaan juga menyelenggarakan life music di kafenya. Dengan demikian masyarakat yang datang ke perpustakaan juga bisa menikmati makanan yang enak dengan suasana yang enak, serta dapat membaca dengan enak pula. Di perpustakaan ini pendidikan masyarakat dapat dilakukan seperti mendidik berdisiplin dan saling menghargai satu sama lain. Mengambil contoh Singapura tadi misalnya, begitu masuk di pintu utama gedung perpustakaan pengunjung sudah diingatkan dengan etika ke perpustakaan atau library etiket. Peringatan tersebut digambar di lantai seperti matikan handphone dan pager, Jangan berbicara keras, Jangan berdiskusi di perpustakaan. Sedangkan yang berhubungan dengan bahan pustaka ada peringatan seperti Perlakukan pustaka dengan baik, kembalikan ke tempat semula atau ke keranjang pengembalian untuk kenyamanan pembaca lain, dan lain-lain. Disini masyarakat dibiasakan untuk mematuhi etika dan peraturan yang diberlakukan di perpustakaan. Juga dibiasakan untuk menghargai hak-hak orang lain. Misalnya jangan berbicara keras, karena bisa mengganggu kenyamanan orang lain; mematikan telepon genggamnya supaya tidak mengganggu kenyamanan orang lain dan sebagainya. Jika kebiasaan ini dapat berimbas kepada kehidupan mereka di luar perpustakaan, alangkah indahnya dan nyamannya kita beraktifitas sehari-hari. Tidak ada supir yang berhenti seenaknya; tidak ada orang yang menyerobot antrian di kasir pasar swalayan, di bank-bank dan ATM; tidak ada pejabat yang sibuk menerima panggilan telepon genggam padahal ia sedang menghadiri rapat penting, dan lain-lain.
Perpustakaan juga dapat mendidik masyarakat untuk berperilaku halus yaitu dengan menyediakan bacaan-bacaan rekreasi yang bisa mengasah perasaan mereka seperti buku-buku sastra, novel, cerpen dan lain-lain. Lihat masyarakat sekarang yang cenderung brutal. Tidak terkecuali kalangan terpelajar seperti mahasiswa dan pelajar. Tanyakan kepada mereka, apakah dia sering membaca dan apa bacaannya. Saya yakin mereka tidak pernah atau jarang sekali membaca. Kalaupun membaca, saya yakin bacaan mereka adalah bacaan yang tidak bermutu yang banyak beredar di sekitar kita, seperti koran-koran kriminal, perkosaan, perampokan, penodongan, pelecehan seksual dan lain-lain yang justru menjadi pemicu kekerasan dan bahkan mengarahkan ke perilaku jahat. Jika perpustakaan dapat menyediakan bacaan bermutu dengan suasana yang nyaman, maka masyarakat mempunyai pilihan untuk mendapatkan informasi. Dengan kesibukan membaca maka para mahasiswa dan pelajar tidak punya waktu lagi untuk bergerombol dan “kongkow-kongkow” dan kemudian saling mengganggu dan tawuran.Kembali ke peran Ibu di rumah tangga, marilah pada kesempatan hari Ibu ini kita berdayakan Ibu-ibu disekitar kita. Jika ibu dapat mendidik anak-anaknya dengan baik saya percaya bahwa generasi bangsa Indonesia kedepan akan lebih baik. Karena itu berilah Ibu-ibu itu bahan untuk memberi teladan yang baik-baik kepada anaknya melalui dongeng-dongeng yang dapat mengantarkan anaknya tertidur dengan mimpi-mimpi indah.
Hampir tiap tahun orang tua diingatkan untuk menanamkan dan menumbuhkan minat membaca anak melalui media massa, namun keluhan bahwa minat membaca anak tetap rendah masih selalu terdengar. Nampaknya belum ditemukan cara yang efektif untuk melibatkan orang tua dalam menolong meningkatkan minat membaca. Belum banyak diteliti mengenai faktor-faktor yang menentukan bagaimana cara melibatkan orang tua untuk meningkatkan minat membaca anak. Pemahaman terhadap faktor-faktor tersebut dapat digunakan untuk mengembangkan intervensi yang efektif untuk meningkatkan keterlibatan orang tua dalam menumbuhkan minat membaca anak di keluarga masing-masing. 

PEMBINAAN MINAT BACA MELALUI LINGKUNGAN KELUARGA
Anak adalah amat Sang Pencipta pada orang tua, keluarga, dan masyarakat. Ia harus dibimbing dan dipelihara sebagai aset masa depan. Wajah masa depan sebuah negeri dapat dilihat dari bagaimana kualitas anak-anak masa kini. Yang namanya anak, tidak sebatas anak kecil saja, tetapi juga remaja bahkan dewasa, sepanjang mereka masih menjadi bagian dari tanggung jawab orang tuanya (baca: belum menikah). Permasalahan anak bukan permasalahan sepele karena menyangkut tanggung jawab kepada Allah SWT sebagai Pemberi Amanah. Allah SWT menjadikan anak sebagai ujian bagi bagi kedua orangtuanya sekaligus sebagai anugerah penerus keturunan dan tabungan kebaikan manakala orang tuanya sudah meninggal.
Kedudukan anak sebagai ujian terjadi tatkala orang tua harus berhadapan dengan bagaimana cara memperlakukan, membina dan membimbingnya agar ia tumbuh menjadi bagian dari generasi unggul. Keunggulan di sini meliputi keungggulan secara moral, keilmuan, serta fisiknya dan tidak menjadi generasi yang hanya membenani orang lain. Siapa yang pertama kali harus bertanggung jawab pada pembinaan minat baca anak? Jawabannya yang pasti adalah orang tua anak itu sendiri. Orang tua adalah orang yang pertama dan terutama wajib bertanggung jawab atas pembinaan minat baca anak-anaknya, sebab tanggung jawab ini menjadi lading bagi khususnya ibu serta bapak dalam menanamkan akhlak yang baik sebagai landasan bertindak dan berperilaku ke depannya.

Pertanggungjawaban orang tua atas pembinaan minat baca anaknya dapat dijelaskan  dengan dua alasan sebagai berikut :
1.  Secara biologis, kelahiran anak berasal dari orang tuanya. Sebagai orang tua mereka bertanggung jawab terhadap pendidikan anaknya sehingga anaknya dapat berdiri sendiri. Dalam cakupan tanggung jawab mendidik ini termasuk pula tanggung jawab membina akhlak, rasa social, rasa kebangsaan, kecerdasan termasuk pula membina minat bacanya.
2.  Sifat ketidakberdayaan dan ketergantungan anak kepada orang lain, khususnya pada kedua orang tuanya. Sifat ketidakberdayaan anak inilah yang menyebabkan orang tua harus bertanggung jawab kepada pendidikan anaknya termasuk tanggung jawab pembinaan minat bacanya.
Sebuah Syair yang dinisbahkan kepada Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib menyatakan:
            Bersegeralah mengajar anakmu sopan-santun saat ia kecil agar kedua matamu menjadi berbinar saat ia dewasa. Sesungguhnya kisah-kisah teladan yang kau paparkan  kepada anakmu di masa kanak-kanak, ibarat mengukir di batu. Itu adalah khazanah yang akan senantiasa tumbuh. Dan tidak ada rasa khawatir terhadap tantangan zaman.
Al-Ghazali mengatakan, “Kita harus membina dan mendidik anak saat ia masih kecil ibarat mengukir di atas batu; bekasnya akan bertahan lama. Sebab, hati suci anak ibarat permata berharga yang masih belum terdapat relief dan ukiran apapun (di atasnya), dan dapat dibentuk serta diukir dengan bentuk apa saja.”
Ibnu Abdulbar, penulis buku Jami’u Bayan al-ilm mengatakan, “Pendidikan dan pembinaan harus dilakukan pada masa kecil, karena seorang yang belajar ilmu pada masa muda, belajarnya ini laksana mengukir di atas batu. Dan seorang yang belajar dan menuntun ilmu pada masa tua, itu tak ubahnya seperti menulis di atas air (tidak ada bekas dan pengaruhnya).”
Ada beberapa hal yang dapat kita terapkan saat mendidik anak, di antaranya sebagai berikut :
1.    Membantu anak berpikir kreatif
Kita bisa melatih anak berpikir kreatif dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanyaan tertentu, dan alasan tentang segala hal yang kita tanyakan. Misalnya mengapa kita harus mandi tiap hari. Biarkan anak berekspolarasi dengan jawaban-jawabannya.

2.    Melatih anak berdiskusi
Ketika anak mengungkapkan sebuah pendapat, ajaklah dia untuk menemukan alasan mengapa ia mengungkapkan hal tersebut. Perlihatkan keingintahuan kita terhadap apa yang diungkapkannya. Tetapi jangan menggiringnya pada jawaban yang “seharusnya” atau yang diinginkan orang tua, seperti menyudutkannya untuk memberikan alasan yang lain yang bisa menyenangkan (memuaskan) orang tua, padahal itu bukan alasannya.

3.    Menanamkan kebiasaan membaca
Untuk menumbuhkan minat baca pada anak, kita perlu menunggu dia berumur dua hingga enam tahun. Kita bisa melakukannya saat anak masih berusia empat bulan. Tujuannya tentu bukan agar anak memahami isi bacaan, akan tetapi merangsang aspek-aspek psikisnya. Bukunya pun lebih yang berbentuk buku bergambar yang berwarna warni dan sedikit kata. Hal tersebut penting untuk merangsang kemampuan kognisi, komunikasi, social, dan afeksi anak. Keikutsertaan anak memegang buku pun akan membuat ia terlibat secara emosional.

4.    Menghindari kesalahan memotivasi anak
Membuat anak bersalah ketika ia tidak berbuat sesuai dengan keinginan orang tua dan berharap anak termotivasi untuk berbuat lebih baik (baca: menurut orang tua), justru akan membuat anak tidak percaya diri. Demikian juga jika kita membandingkan anka dengan orang lain yang dianggap lebih. Alih-alih termotivasi untuk berbuat seperti orang lain tersebut, anak akan merasakan bahwa dirinya lemah dan tidak berharga.

MENDORONG ANAK GEMAR MEMBACA
            Kebiasaan membaca sejak dini ternyata dapat menggali bakat dan potensi anak. Membaca juga memacu daya nalar dan melatih konsentrasi. Tidak sedikit orang sukses berasal dari keluarga yang cinta membaca. Memperkenalkan bacaan pada anak sejak kecil dapat meningkatkan prestasi anak di sekolah. Karena itu, pentingnya orang tua mengapresiasikan budaya baca pada anak dengan rajin mendongeng dan memperkenalkan buku-buku cerita yang disesuaikan usianya. Yang perlu diingat, jangan mendorong-dorong anak untuk membaca sementara orang tuanya tidak pernah membaca. Karena mencontohkan lebih efektif ketimbang bicara.
            Agar anak tidak bosan membaca, sebaiknya anak-anak diberi buku-buku lucu dan berwarna-warni, serta bacaan sesuai usianya. Pada usia 0-2 tahun misalnya, anak-anak sadang pada taraf melatih motorik sehingga cara paling baik adalah oang tua aktif mendongeng untuk anak dan memberi contoh. Pada usia 2-5 tahun, anak-anak bisa diberi buku-buku plastik sehingga bisa dbawa kemana-mana. Buku –buku itu juga bisa yang berbahan kain, dengan menampilkan gambar hewan atau buah-buahan. Pada awalnya anak diberi buku yang setiap halamannya berisi satu kalimat. Memperkenalkan budaya membaca pada usia sedini mungkin akan memberikan hasil yang lebih optimal daripada menunggu sampai anak sudah lebih besar dan lebih menyukai budaya menonton TV. Dalam menumbuhkan minat baca, yang penting orang tua harus mau belajar intonasi dan gerak saat berkomunikasi dengan anak melalui aktivitas mendongeng.
Selain orang tua, media massa dan pemerintah juga memegang peranan penting dalam menumbuhkan kebiasaan membaca sejak kecil. Media massa saat ini masih berfokus pada buku-buku dewasa, terutama pada rubric resensi bukunya. Seyogianya, resensi buku anak juga harus di kedepankan agar orang tua terpacu untuk menumbuhkan budaya membaca pada anak-anaknya. Sementara dari pemerintah, minimal adanya satu perpustakaan di setiap kabupaten/kota sampai kepada perpustakaan desa/kecamatan yang buka 7 hari dalam seminggu, termasuk Sabtu dan Minggu sehingga orang tua bisa mendampingi anak-anaknya berkunjung ke perpustakaan.   

MEMBINA MINAT BACA DI USIA DINI
Pertumbuhan minat baca bisa dimulai sejak bayi dilahirkan. Bahkan banyak ahli psikologi yang menyarankan agar bayi yang masih ada di dalam kandungan distimulasi sejak dini untuk mengenal dunia luar dengan mengajak mereka berbicara. Janin yang masih berada dalam perut ibunya sudah dapat mendengar suara yang ada di sekitarnya, meskipun masih sangat lemah.
Para ahli psikologi dan syaraf menyatakan bahwa pada masa bayi berada dalam kandungan maka pertumbuhan otaklah yang paling cepat di antara bagian tubuh yang lain. Pada bayi yang dilahirkan, sel-sel otak (neuron) telah mencapai 25% dari otak orang dewasa serta mengandung 100 miliar sel otak. Pada saat anak berusia 3 tahun, pertumbuhan otak sudah mencapai sudah mencapai 90% dari otak dewasa. Setelah usia 3 tahun ke atas tinggal fase pembesaran dan pematangan neuron. Oleh karena itu, dalam usia dini anak perlu dikenalkan dengan dunia membaca. Otak mereka akan merekam isi bacaan apapun yang disampaikan orang tuanya dalam gaya cerita. Hal ini telah dipraktikan dan menjadi tradisi di Jepang dengan gerakan 20 Minutes Reading of Mother and Child. Gerakan ini menganjurkan seorang ibu untuk membacakan anaknya sebuah buku yang dipinjam dari perpustakaan umum atau sekolah selama 20 menit sebelum anaknya tidur. (Buletin Pusat Perbukuan, Depdiknas No.1 Tahun 2000) 

Selain itu anak juga perlu diberikan buku-buku yang penuh warna-warni dan isinya memikat daya fantasi. Di samping untuk mengenalkan bentuk, juga mengenalkan warna pada anak. Karena pada usia dini, anak belum mampu memperlakukan buku dengan baik sehingga fisik buku yang diperlukan anak umumnya mesti kuat dan tebal, tidak mudah robek, dan gampang dibuka. Di Amerika, buku-buku seri Child Growing-up (tumbuh kembang anak) terbitan Sesame Street sangat digemari, sebab isinya sangat pas bagi anak, fisik buku pun sangat aman dan menarik bagi anak.
 
*pernah diterbitkan di BULETIN PUSTAKA (Kantor Perpustakaan Daerah Kabupaten Semarang) Edisi 12, Desember 2012 

Sumber bacaan :
Muhammad, Baqir Hujjati.2008.Mendidik Anak sejak Kandungan.Cetak I. Jakarta: Cahaya

0 komentar:

Post a Comment